Apa yang terjadi
Polisi Malaysia membongkar sindikat penipuan asmara (love scam) yang beroperasi dari sebuah resor di distrik Tanah Merah, Kelantan. Menurut laporan AsiaOne yang mengutip Bernama, sasaran utamanya adalah pria asal Singapura. Kepala Polisi Negeri Kelantan, Mohd Yusoff Mamat, menjelaskan bahwa resor tersebut diubah menjadi pusat panggilan dengan tiga supervisor dan 55 operator yang bekerja dari siang hingga tengah malam.
Yang perlu dicatat pembaca Indonesia: para pelaku menyamar sebagai perempuan Indonesia. Mereka menghubungi target lewat platform seperti Xiaohongshu dan Douyin, memulai dengan pesan singkat seperti “hi”, lalu membangun hubungan lewat WhatsApp tanpa pernah mau melakukan panggilan video, hingga akhirnya korban dibujuk mengirim uang.
Penggerebekan dilakukan pada 22 April 2026, sekitar sebulan setelah operasi berjalan. Polisi menyita 46 komputer, lima laptop, 118 ponsel, dan sejumlah router internet, termasuk yang memakai internet satelit. Sebanyak 58 orang ditangkap (53 laki-laki dan 5 perempuan); 56 di antaranya warga asing, sebagian besar dari Tiongkok, dan 23 orang tidak memiliki dokumen perjalanan yang sah. Karena belum ada korban yang melapor, polisi belum dapat memperkirakan total kerugian.
Modus yang digunakan
Love scam bekerja dengan memanfaatkan emosi. Pelaku memakai identitas palsu – dalam kasus ini “perempuan Indonesia” – lengkap dengan foto dan cerita yang menarik. Setelah korban merasa punya hubungan khusus, muncullah permintaan uang dengan berbagai alasan: keadaan darurat, biaya perjalanan untuk bertemu, atau ajakan investasi bersama.
Kasus ini juga menunjukkan bahwa “kekasih online” bisa saja adalah operator di pusat panggilan yang bekerja dengan jadwal kerja dan target, bukan satu orang yang benar-benar tertarik pada korban. Identitas kebangsaan yang dipakai hanyalah kedok.
Tanda-tanda bahaya
- Kenalan online yang selalu menolak panggilan video atau bertemu langsung.
- Hubungan terasa berkembang sangat cepat, penuh pujian dan janji.
- Obrolan segera dipindahkan dari media sosial ke WhatsApp atau aplikasi pesan pribadi.
- Muncul permintaan uang, pulsa, atau bantuan finansial, sekecil apa pun.
- Ajakan berinvestasi atau “bisnis bersama” dari orang yang belum pernah Anda temui.
Cara melindungi diri
Jangan pernah mengirim uang kepada orang yang hanya Anda kenal lewat internet. Minta panggilan video; bila selalu ada alasan untuk menolak, anggap itu tanda bahaya. Cari foto profilnya dengan fitur pencarian gambar untuk melihat apakah foto itu dicuri dari akun lain. Ceritakan hubungan online Anda kepada teman atau keluarga yang bisa menilai dengan kepala dingin. Nama Indonesia yang dicatut dalam modus ini juga bisa menimpa siapa saja, jadi waspadai akun yang mengaku berasal dari mana pun.
Ke mana melapor di Indonesia
Jika Anda menemukan modus serupa atau sudah telanjur menjadi korban, jangan diam. Beberapa kanal resmi yang bisa digunakan di Indonesia:
- Kontak OJK 157 – telepon 157, WhatsApp 081-157-157-157, email konsumen@ojk.go.id, atau portal kontak157.ojk.go.id untuk pengaduan yang menyangkut sektor jasa keuangan.
- Satgas PASTI (Waspada Investasi) – untuk melaporkan atau mengecek penawaran investasi dan pinjaman ilegal, lihat ojk.go.id/waspada-investasi.
- cekrekening.id – untuk mengecek dan melaporkan nomor rekening yang diduga dipakai untuk penipuan.
- aduankonten.id – untuk melaporkan konten, akun, situs, atau aplikasi bermuatan penipuan kepada Kementerian Komunikasi dan Digital.
- patrolisiber.id – untuk melaporkan tindak kejahatan siber ke Direktorat Tindak Pidana Siber Polri. Untuk kasus dengan kerugian nyata, buat juga laporan resmi di kantor polisi terdekat.
Simpan semua bukti – tangkapan layar percakapan, bukti transfer, nomor rekening, nomor telepon, dan tautan – sebelum pelaku menghapus akun mereka. Segera hubungi bank Anda bila ada transfer yang baru saja terjadi.
Sumber: AsiaOne. Artikel ini ditulis ulang dan dirangkum oleh redaksi penipuan.id untuk edukasi pembaca di Indonesia.