Apa yang terjadi
Konten penipuan di media sosial terus melonjak, dan kecerdasan buatan (AI) makin sering dipakai pelaku. Hal ini disampaikan Wakil Menteri Komunikasi Malaysia, Teo Nie Ching, dalam pidatonya di Sidang Umum ke-21 Confederation of ASEAN Journalists di Kuala Lumpur pada 27 April 2026, sebagaimana dilaporkan The Star.
Mengutip data Komisi Komunikasi dan Multimedia Malaysia (MCMC), ia menyebut 43.618 konten terkait penipuan – termasuk akun palsu dan materi peniruan identitas – diturunkan hanya dalam periode 1 Januari hingga 31 Maret 2026. Angka ini melanjutkan tren kenaikan tajam: 6.297 konten dihapus pada 2023, naik menjadi 63.652 pada 2024, lalu 98.503 pada 2025.
Menurut Teo, penipu kian memanfaatkan AI, termasuk untuk meniru tokoh kerajaan. Ada akun media sosial palsu yang memakai AI untuk meniru suara Raja Malaysia, Sultan Ibrahim, dalam video menyesatkan yang mempromosikan program “bantuan keuangan”. Ia juga menyebut taktik serupa di kawasan, misalnya penyalahgunaan citra mantan Presiden Singapura Halimah Yacob dalam konten hasil manipulasi AI yang terkait bantuan palsu dan penipuan keuangan.
Modus yang digunakan
Pelaku memanfaatkan wajah dan suara tokoh yang dihormati publik – pejabat, kepala negara, atau figur terkenal – lalu merekayasanya dengan AI (sering disebut deepfake). Video atau rekaman suara itu kemudian dipakai untuk mempromosikan bantuan sosial palsu, hadiah, atau skema keuangan. Karena tampak diucapkan langsung oleh tokoh yang dipercaya, banyak orang tidak lagi mempertanyakan keasliannya.
Langkah berikutnya biasanya sama: korban diarahkan ke tautan, akun, atau nomor WhatsApp untuk “mendaftar”, lalu diminta membayar biaya administrasi, menyerahkan data pribadi, atau memasukkan kode OTP.
Tanda-tanda bahaya
- Video tokoh penting yang menjanjikan bantuan uang, hadiah, atau keuntungan investasi, tetapi hanya beredar di akun tidak resmi.
- Gerak bibir, ekspresi, atau intonasi suara yang terasa janggal atau tidak sinkron.
- Pendaftaran bantuan yang meminta biaya di muka atau data rahasia seperti PIN dan OTP.
- Akun baru dengan sedikit unggahan namun gencar beriklan.
- Desakan untuk segera mendaftar karena “kuota terbatas”.
Cara melindungi diri
Jangan percaya begitu saja pada video atau pesan suara, sekalipun tampak meyakinkan. Cek informasi bantuan pemerintah hanya di situs dan akun resmi instansi terkait, bukan dari tautan kiriman orang lain. Program bantuan resmi tidak meminta biaya pendaftaran lewat transfer ke rekening pribadi. Jangan pernah membagikan OTP, PIN, atau kata sandi kepada siapa pun.
Biasakan juga menahan diri sebelum membagikan ulang konten sensasional. Bantu orang tua dan kerabat yang kurang akrab dengan teknologi untuk memahami bahwa suara dan wajah kini bisa dipalsukan dengan mudah. Jika menemukan konten seperti ini, laporkan akunnya ke platform dan ke kanal pengaduan resmi.
Ke mana melapor di Indonesia
Jika Anda menemukan modus serupa atau sudah telanjur menjadi korban, jangan diam. Beberapa kanal resmi yang bisa digunakan di Indonesia:
- Kontak OJK 157 – telepon 157, WhatsApp 081-157-157-157, email konsumen@ojk.go.id, atau portal kontak157.ojk.go.id untuk pengaduan yang menyangkut sektor jasa keuangan.
- Satgas PASTI (Waspada Investasi) – untuk melaporkan atau mengecek penawaran investasi dan pinjaman ilegal, lihat ojk.go.id/waspada-investasi.
- cekrekening.id – untuk mengecek dan melaporkan nomor rekening yang diduga dipakai untuk penipuan.
- aduankonten.id – untuk melaporkan konten, akun, situs, atau aplikasi bermuatan penipuan kepada Kementerian Komunikasi dan Digital.
- patrolisiber.id – untuk melaporkan tindak kejahatan siber ke Direktorat Tindak Pidana Siber Polri. Untuk kasus dengan kerugian nyata, buat juga laporan resmi di kantor polisi terdekat.
Simpan semua bukti – tangkapan layar percakapan, bukti transfer, nomor rekening, nomor telepon, dan tautan – sebelum pelaku menghapus akun mereka. Segera hubungi bank Anda bila ada transfer yang baru saja terjadi.
Sumber: The Star. Artikel ini ditulis ulang dan dirangkum oleh redaksi penipuan.id untuk edukasi pembaca di Indonesia.