Apa yang terjadi

Seorang mahasiswa kedokteran berusia 22 tahun dari India utara, yang hanya disebut “Sam”, mengaku kepada majalah Wired bahwa dirinya berada di balik akun-akun media sosial “Emily Hart” – sosok perempuan yang sepenuhnya dibuat dengan kecerdasan buatan (AI) dan tampil sebagai influencer politik konservatif pro-MAGA di Amerika Serikat. Laporan ini dirangkum oleh The Independent.

Menurut pengakuannya, ide awalnya adalah membuat dan menjual gambar AI seorang perempuan berbikini. Ia lalu menggunakan platform Gemini milik Google, yang dalam transkrip yang dilihat Wired menyarankan agar tokoh tersebut menyasar ceruk konservatif karena audiens itu, terutama pria lanjut usia di AS, dinilai punya daya beli lebih tinggi dan lebih loyal. Selain unggahan di Instagram dan Facebook, Sam menjual pakaian bertema MAGA dan langganan konten di Fanvue, platform pesaing OnlyFans yang menyebut dirinya sebagai platform monetisasi AI. Ia mengaku menghasilkan ribuan dolar setiap bulan.

Wired melaporkan akun Instagram Emily Hart diblokir pada Februari karena dinilai melakukan aktivitas “penipuan”, dan halaman Facebook-nya juga tampak sudah tidak ada. Meta menyatakan pihaknya berupaya mendeteksi dan memberi label pada konten buatan AI. Sam sendiri mengaku tidak menyesal dan tidak merasa sedang menipu orang.

Modus yang digunakan

Pola ini tidak terbatas pada politik Amerika. Siapa pun kini bisa membuat “orang” yang tidak pernah ada: wajah menarik, kepribadian yang disesuaikan dengan selera audiens tertentu, dan unggahan rutin yang memancing emosi. Setelah pengikut merasa dekat, akun tersebut mengarahkan mereka untuk membeli produk, berlangganan konten eksklusif, atau berdonasi. Pembeli mengira sedang mendukung seseorang yang nyata dan sepemikiran, padahal uangnya mengalir ke pembuat akun yang identitasnya tersembunyi.

Akun seperti ini juga bisa menjadi pintu masuk modus lain, misalnya love scam atau ajakan investasi, karena kepercayaan pengikut sudah terbentuk.

Tanda-tanda bahaya

  • Foto yang tampak terlalu sempurna, dengan detail janggal pada tangan, telinga, teks, atau latar belakang.
  • Tidak pernah tampil dalam siaran langsung atau video spontan yang meyakinkan.
  • Konten yang sangat sesuai dengan pandangan atau keinginan Anda, seolah dirancang untuk Anda.
  • Ajakan membeli merchandise, berlangganan konten, atau mengirim “dukungan” berupa uang.
  • Tidak ada jejak identitas yang dapat diverifikasi di luar akun tersebut.

Cara melindungi diri

Sebelum membayar atau berlangganan pada sebuah akun, periksa apakah sosok di baliknya benar-benar ada. Perhatikan label “AI info” atau penanda serupa yang ditampilkan platform, dan cari fotonya dengan pencarian gambar terbalik. Jangan biarkan kedekatan emosional atau kesamaan pandangan politik membuat Anda berhenti bersikap kritis. Ingatkan juga orang tua dan kerabat, karena menurut laporan ini kelompok usia lanjut justru sengaja dijadikan sasaran.

Ke mana melapor di Indonesia

Jika Anda menemukan modus serupa atau sudah telanjur menjadi korban, jangan diam. Beberapa kanal resmi yang bisa digunakan di Indonesia:

  • Kontak OJK 157 – telepon 157, WhatsApp 081-157-157-157, email konsumen@ojk.go.id, atau portal kontak157.ojk.go.id untuk pengaduan yang menyangkut sektor jasa keuangan.
  • Satgas PASTI (Waspada Investasi) – untuk melaporkan atau mengecek penawaran investasi dan pinjaman ilegal, lihat ojk.go.id/waspada-investasi.
  • cekrekening.id – untuk mengecek dan melaporkan nomor rekening yang diduga dipakai untuk penipuan.
  • aduankonten.id – untuk melaporkan konten, akun, situs, atau aplikasi bermuatan penipuan kepada Kementerian Komunikasi dan Digital.
  • patrolisiber.id – untuk melaporkan tindak kejahatan siber ke Direktorat Tindak Pidana Siber Polri. Untuk kasus dengan kerugian nyata, buat juga laporan resmi di kantor polisi terdekat.

Simpan semua bukti – tangkapan layar percakapan, bukti transfer, nomor rekening, nomor telepon, dan tautan – sebelum pelaku menghapus akun mereka. Segera hubungi bank Anda bila ada transfer yang baru saja terjadi.

Sumber: The Independent. Artikel ini ditulis ulang dan dirangkum oleh redaksi penipuan.id untuk edukasi pembaca di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *