Diskon besar dan promo hari raya selalu menggoda, tetapi tidak semua toko online yang muncul di linimasa Anda itu nyata. Data dari Malaysia menunjukkan toko daring palsu termasuk penyumbang utama kerugian penipuan, dan pola yang sama sering kita temui di Indonesia menjelang Lebaran dan akhir tahun.

Apa yang terjadi

Laporan Bernama tentang data Fortinet Malaysia memberi peringatan penting bagi siapa pun yang gemar berbelanja daring saat musim perayaan. Menurut laporan tersebut, kerugian akibat penipuan di Malaysia mencapai sekitar RM2,7 miliar pada 2025, naik 76 persen dibanding 2024, dengan lonjakan yang terlihat jelas saat musim perayaan seperti Hari Raya. Data itu disampaikan Kevin Wong, country manager perusahaan keamanan siber Fortinet Malaysia.

Selain phishing dan tautan pembayaran palsu, Wong menyebut platform e-commerce palsu sebagai salah satu pendorong utama kasus tersebut. Tingginya volume transaksi di masa perayaan membuat konsumen lebih mudah lengah.

Modus yang digunakan

Penipu membangun toko online tiruan, baik berupa situs web, akun media sosial, maupun iklan berbayar, yang menawarkan barang populer dengan harga miring. Setelah pembeli membayar, barang tidak pernah dikirim, atau data kartu dan akun pembeli dicuri untuk transaksi lain.

Menjelang hari raya, modus ini biasanya dibungkus dengan tema promo Lebaran, parsel, tiket mudik, atau diskon akhir tahun, sehingga terlihat wajar di tengah banjir promosi yang asli.

Tanda-tanda bahaya

  • Harga jauh di bawah harga pasar untuk barang bermerek.
  • Hanya menerima transfer ke rekening pribadi, tanpa pilihan pembayaran lewat marketplace resmi.
  • Akun toko baru, dengan ulasan sedikit atau seragam dan komentar dinonaktifkan.
  • Alamat situs mirip merek terkenal tetapi ejaannya sedikit berbeda.
  • Desakan “stok terbatas, bayar sekarang”.
  • Nomor kontak penjual hanya berupa WhatsApp tanpa alamat toko atau identitas usaha yang jelas.

Cara melindungi diri

  • Belanja melalui marketplace atau situs resmi dengan sistem pembayaran yang dilindungi.
  • Pastikan situs memakai HTTPS dan cek alamatnya dengan teliti.
  • Cek nomor rekening penjual di cekrekening.id sebelum mentransfer.
  • Jangan klik tautan promo dari pesan yang tidak Anda minta.
  • Simpan bukti transaksi dan percakapan untuk keperluan pelaporan.
  • Waspadai iklan berbayar di media sosial yang mengarah ke situs tak dikenal; cari nama tokonya di mesin pencari beserta kata “penipuan” atau “review”.

Ke mana melapor di Indonesia

Jika Anda menjadi korban atau menemukan modus serupa, segera hubungi bank Anda untuk meminta pemblokiran transaksi, lalu laporkan melalui kanal resmi berikut. Siapkan bukti berupa tangkapan layar percakapan, bukti transfer, nomor rekening atau nomor telepon pelaku, serta tautan akun atau situs yang digunakan.

  • Kontak OJK 157 untuk pengaduan terkait lembaga jasa keuangan, investasi, dan pinjaman online.
  • Satgas PASTI (Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal) untuk melaporkan investasi atau pinjol ilegal, melalui kanal pengaduan OJK.
  • aduankonten.id untuk melaporkan situs, akun, atau konten penipuan ke Komdigi.
  • cekrekening.id untuk mengecek dan melaporkan nomor rekening yang dipakai penipu.
  • patrolisiber.id untuk melaporkan kejahatan siber ke Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri.

Penipu terus mengembangkan cara baru, tetapi polanya hampir selalu sama: membangun kepercayaan atau rasa takut, menciptakan rasa terdesak, lalu meminta uang atau data. Luangkan waktu sejenak untuk memeriksa, bertanya kepada orang tepercaya, dan menolak tekanan. Bagikan artikel ini kepada keluarga dan teman, terutama orang tua, agar lebih banyak orang terlindungi.

Sumber: Bernama. Artikel ini ditulis ulang dan dirangkum oleh redaksi penipuan.id untuk edukasi masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *