Belanja lewat siaran langsung di media sosial semakin populer, termasuk di kalangan orang tua. Kasus influencer di Tiongkok ini menunjukkan bagaimana citra yang hangat, cerita yang menyentuh, dan harga coret yang fantastis dapat membuat ribuan orang membeli produk yang asal-usulnya tidak sesuai klaim penjual.

Apa yang terjadi

VnExpress International melaporkan kasus influencer Tiongkok berusia 47 tahun, dikenal dengan nama Duolan, yang akun media sosialnya menghilang setelah sebuah investigasi media lokal. Ia mencatat penjualan sekitar CNY100 juta pada Januari lewat produk merek Yizilan yang kurang dikenal.

Salah satu produk andalannya adalah krim wajah yang ia klaim dibawa dari Australia oleh putrinya. Ia menjual dua botol seharga CNY69,9 (sekitar US$10) dan menyebut harga aslinya CNY3.999 per botol. Namun, investigasi harian Lanjing News menemukan biaya produksi krim itu kurang dari CNY20 per botol dan produknya dibuat di pabrik di Provinsi Guangdong, bukan diimpor dari Australia. Hingga laporan diterbitkan, belum jelas apakah ada sanksi dari polisi atau otoritas lain.

Modus yang digunakan

Menurut laporan tersebut, pengikutnya sebagian besar perempuan paruh baya dan lansia. Ia membangun citra sebagai pengusaha yang baik hati lewat video-video menyentuh, dan menyapa pelanggannya dengan panggilan akrab seperti keluarga.

Dalam siaran langsung, ia memperagakan drama menolak saran untuk menaikkan harga sehingga penonton terdorong segera membeli. Ia juga mengarahkan pengikut ke grup chat untuk membeli produk. Ini kombinasi klasik: kedekatan emosional, klaim asal-usul palsu, dan harga “coret” yang tidak masuk akal.

Tanda-tanda bahaya

  • “Harga asli” sangat tinggi yang dicoret menjadi sangat murah tanpa bukti.
  • Klaim produk impor atau premium tanpa izin edar yang bisa dicek.
  • Drama atau cerita emosional saat live untuk memicu pembelian impulsif.
  • Pembeli diarahkan bertransaksi di grup chat, di luar platform resmi.
  • Target utama orang tua atau lansia yang kurang akrab dengan belanja daring.

Cara melindungi diri

  • Untuk kosmetik di Indonesia, cek nomor izin edar produk di situs resmi BPOM sebelum membeli.
  • Jangan tergiur diskon ekstrem; bandingkan harga dengan toko resmi merek tersebut.
  • Bertransaksi di dalam platform yang punya perlindungan pembeli, bukan lewat chat pribadi.
  • Dampingi orang tua saat mereka mulai berbelanja lewat live streaming.
  • Simpan bukti pembelian dan laporkan penjual bermasalah ke platform.

Ke mana melapor di Indonesia

Jika Anda menjadi korban atau menemukan modus serupa, segera hubungi bank Anda untuk meminta pemblokiran transaksi, lalu laporkan melalui kanal resmi berikut. Siapkan bukti berupa tangkapan layar percakapan, bukti transfer, nomor rekening atau nomor telepon pelaku, serta tautan akun atau situs yang digunakan.

  • Kontak OJK 157 untuk pengaduan terkait lembaga jasa keuangan, investasi, dan pinjaman online.
  • Satgas PASTI (Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal) untuk melaporkan investasi atau pinjol ilegal, melalui kanal pengaduan OJK.
  • aduankonten.id untuk melaporkan situs, akun, atau konten penipuan ke Komdigi.
  • cekrekening.id untuk mengecek dan melaporkan nomor rekening yang dipakai penipu.
  • patrolisiber.id untuk melaporkan kejahatan siber ke Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri.

Penipu terus mengembangkan cara baru, tetapi polanya hampir selalu sama: membangun kepercayaan atau rasa takut, menciptakan rasa terdesak, lalu meminta uang atau data. Luangkan waktu sejenak untuk memeriksa, bertanya kepada orang tepercaya, dan menolak tekanan. Bagikan artikel ini kepada keluarga dan teman, terutama orang tua, agar lebih banyak orang terlindungi.

Sumber: VnExpress International. Artikel ini ditulis ulang dan dirangkum oleh redaksi penipuan.id untuk edukasi masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *