Modus penipuan yang mengatasnamakan pejabat atau aparat terus memakan korban dengan kerugian besar. Kasus di Singapura ini menunjukkan bagaimana rangkaian telepon dan pesan WhatsApp yang tampak resmi dapat membuat seorang perempuan lanjut usia menyerahkan emas senilai ratusan ribu dolar kepada komplotan penipu.
Apa yang terjadi
Malay Mail, mengutip The Straits Times, melaporkan seorang pria berusia 23 tahun di Singapura didakwa karena diduga membantu mengumpulkan 8,6 kg barang emas senilai lebih dari S$654.000 dalam penipuan yang mengatasnamakan pejabat pemerintah. Ia dituduh bersekongkol dengan sejumlah orang lain pada 20 Maret untuk menyimpan hasil kejahatan.
Menurut polisi, korbannya adalah perempuan berusia 62 tahun. Ia awalnya menerima telepon dari orang yang mengaku berasal dari Monetary Authority of Singapore (MAS), otoritas keuangan Singapura, serta dari sebuah perusahaan telekomunikasi, yang mengabarkan adanya tagihan tertunggak atas namanya.
Modus yang digunakan
Percakapan kemudian dilanjutkan lewat WhatsApp. Korban diberi tahu bahwa akun-akunnya dipakai untuk membeli barang mahal seperti ponsel dan jam tangan pintar yang dikirim ke alamat tak dikenal. Seorang pria yang mengaku sebagai petugas investigasi MAS lalu meminta korban “mendeklarasikan” seluruh barang berharganya dengan dalih penyelidikan pencucian uang.
Ini adalah pola penipuan berlapis yang juga sering terjadi di Indonesia: pelaku berpindah peran dari petugas perusahaan ke “aparat”, menakut-nakuti korban seolah terlibat kejahatan, lalu meminta uang atau barang berharga diserahkan untuk “diamankan”.
Tanda-tanda bahaya
- Telepon mendadak soal tagihan atau transaksi yang tidak pernah Anda lakukan.
- Panggilan dialihkan ke orang yang mengaku polisi, jaksa, atau pejabat otoritas keuangan.
- Tuduhan terlibat pencucian uang disertai ancaman.
- Permintaan menyerahkan uang, emas, atau barang berharga untuk “pemeriksaan”.
- Larangan menceritakan kasus kepada keluarga.
Cara melindungi diri
- Instansi resmi tidak akan meminta Anda menyerahkan uang atau emas lewat telepon atau WhatsApp.
- Tutup telepon, lalu hubungi instansi tersebut melalui nomor resmi yang Anda cari sendiri.
- Di Indonesia, pertanyaan soal lembaga jasa keuangan bisa diajukan ke Kontak OJK 157.
- Ceritakan kepada anggota keluarga sebelum mengambil keputusan terkait uang.
- Jangan membagikan data pribadi, PIN, atau kode OTP kepada siapa pun.
Ke mana melapor di Indonesia
Jika Anda menjadi korban atau menemukan modus serupa, segera hubungi bank Anda untuk meminta pemblokiran transaksi, lalu laporkan melalui kanal resmi berikut. Siapkan bukti berupa tangkapan layar percakapan, bukti transfer, nomor rekening atau nomor telepon pelaku, serta tautan akun atau situs yang digunakan.
- Kontak OJK 157 untuk pengaduan terkait lembaga jasa keuangan, investasi, dan pinjaman online.
- Satgas PASTI (Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal) untuk melaporkan investasi atau pinjol ilegal, melalui kanal pengaduan OJK.
- aduankonten.id untuk melaporkan situs, akun, atau konten penipuan ke Komdigi.
- cekrekening.id untuk mengecek dan melaporkan nomor rekening yang dipakai penipu.
- patrolisiber.id untuk melaporkan kejahatan siber ke Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri.
Penipu terus mengembangkan cara baru, tetapi polanya hampir selalu sama: membangun kepercayaan atau rasa takut, menciptakan rasa terdesak, lalu meminta uang atau data. Luangkan waktu sejenak untuk memeriksa, bertanya kepada orang tepercaya, dan menolak tekanan. Bagikan artikel ini kepada keluarga dan teman, terutama orang tua, agar lebih banyak orang terlindungi.
Sumber: Malay Mail (The Straits Times). Artikel ini ditulis ulang dan dirangkum oleh redaksi penipuan.id untuk edukasi masyarakat.