Kesepian bisa menjadi celah yang dimanfaatkan penipu. Di Inggris, bank melaporkan naiknya penipuan yang dimulai dari pertemanan di media sosial dan berlangsung perlahan, bahkan bertahun-tahun. Orang tua dan lansia yang aktif di grup hobi daring menjadi salah satu sasaran utama modus ini.
Apa yang terjadi
The Guardian melaporkan bahwa bank TSB di Inggris mencatat peningkatan “friendship fraud”, yaitu penipuan di mana pelaku berteman dengan korban melalui media sosial sebelum menguras uangnya, kadang selama bertahun-tahun. Rata-rata kerugian per korban menurut TSB sekitar £3.100.
Contoh yang disebutkan antara lain nasabah yang kehilangan £4.000 setelah berkenalan di Instagram dengan orang yang mengaku butuh biaya pengobatan, serta seseorang berusia akhir 60-an yang selama empat tahun berkomunikasi dengan penipu dan melakukan 60 kali pembayaran. Lembaga amal Age UK menyebut lansia yang kesepian atau baru kehilangan pasangan sangat rentan menjadi sasaran.
Modus yang digunakan
Kontak pertama biasanya terjadi di grup Facebook atau lewat pesan langsung di Instagram. Pelaku mempelajari unggahan korban agar tampak punya minat yang sama, lalu membangun kedekatan secara perlahan. Setelah hubungan terbentuk, permintaan uang dimulai dari jumlah kecil, misalnya untuk buku kuliah atau belanja, lalu terus berulang.
Ada juga yang langsung meminta jumlah besar dengan alasan darurat, seperti tiket pesawat untuk berobat. Pembayaran sering diminta lewat transfer bank atau kartu hadiah (gift card). Pola ini mirip penipuan asmara (romance scam), hanya saja kedok yang dipakai adalah persahabatan.
Tanda-tanda bahaya
- Teman baru di dunia maya yang sangat cepat akrab dan selalu sependapat.
- Cerita kesulitan yang terus berganti, disertai permintaan uang.
- Permintaan pembayaran berupa voucher, gift card, atau transfer ke rekening orang lain.
- Ancaman memutus pertemanan jika permintaan tidak dipenuhi.
- Menghindari video call atau pertemuan langsung.
Cara melindungi diri
- Begitu pembicaraan beralih ke uang, hentikan hubungan tersebut.
- Jika orang tua punya “teman baru” di internet, ajak mereka berdiskusi dan cari kejanggalan dalam ceritanya.
- Atur privasi media sosial agar informasi pribadi tidak mudah dipakai pelaku.
- Catat semua interaksi dan segera hubungi bank bila sudah terlanjur transfer.
- Laporkan akun pelaku ke platform dan ke aduankonten.id.
Ke mana melapor di Indonesia
Jika Anda menjadi korban atau menemukan modus serupa, segera hubungi bank Anda untuk meminta pemblokiran transaksi, lalu laporkan melalui kanal resmi berikut. Siapkan bukti berupa tangkapan layar percakapan, bukti transfer, nomor rekening atau nomor telepon pelaku, serta tautan akun atau situs yang digunakan.
- Kontak OJK 157 untuk pengaduan terkait lembaga jasa keuangan, investasi, dan pinjaman online.
- Satgas PASTI (Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal) untuk melaporkan investasi atau pinjol ilegal, melalui kanal pengaduan OJK.
- aduankonten.id untuk melaporkan situs, akun, atau konten penipuan ke Komdigi.
- cekrekening.id untuk mengecek dan melaporkan nomor rekening yang dipakai penipu.
- patrolisiber.id untuk melaporkan kejahatan siber ke Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri.
Penipu terus mengembangkan cara baru, tetapi polanya hampir selalu sama: membangun kepercayaan atau rasa takut, menciptakan rasa terdesak, lalu meminta uang atau data. Luangkan waktu sejenak untuk memeriksa, bertanya kepada orang tepercaya, dan menolak tekanan. Bagikan artikel ini kepada keluarga dan teman, terutama orang tua, agar lebih banyak orang terlindungi.
Sumber: The Guardian. Artikel ini ditulis ulang dan dirangkum oleh redaksi penipuan.id untuk edukasi masyarakat.