Apa yang terjadi

Platform perjalanan Booking.com mengalami kebocoran data yang menurut para pakar dapat memicu lonjakan penipuan yang disebut “reservation hijack” atau pembajakan reservasi. BBC melaporkan bahwa sejumlah pelanggan sudah mulai menerima pesan mencurigakan.

Dalam email kepada pelanggan yang dilihat BBC, Booking.com menyebut ada aktivitas mencurigakan yang memengaruhi sejumlah reservasi dan pihaknya segera mengambil tindakan. Data yang diakses pelaku meliputi nama, alamat email, nomor telepon, serta detail pemesanan lama dan yang sedang berjalan. Perusahaan menyatakan telah memperbarui PIN reservasi dan mengirim peringatan kepada pelanggan terdampak, tetapi menolak mengungkap berapa banyak orang yang terkena dan di wilayah mana.

Booking.com menegaskan tidak akan pernah meminta detail kartu kredit lewat email, telepon, WhatsApp, atau SMS, dan tidak akan meminta transfer bank yang berbeda dari ketentuan pembayaran di konfirmasi pemesanan.

Modus yang digunakan

Istilah “reservation hijack” dipakai perusahaan keamanan siber Norton untuk modus ketika penipu menghubungi tamu dengan menyamar sebagai hotel, lalu mengarang masalah pada reservasi agar korban mengirim uang. Menurut Luis Corrons dari Norton, modus ini sudah lama ada, tetapi data yang bocor membuatnya jauh lebih berbahaya karena pelaku bisa menyebut nama properti, tanggal menginap, dan kontak yang benar sehingga pesannya terasa seperti layanan pelanggan biasa.

Sebelumnya, pelaku biasanya harus membobol akun admin hotel di Booking.com terlebih dahulu. Dengan data yang kini bocor, mereka bisa langsung menghubungi pelanggan.

Tanda-tanda bahaya

  • Pesan dari “hotel” yang menyebut ada masalah pembayaran atau reservasi akan dibatalkan.
  • Permintaan memasukkan ulang data kartu kredit lewat tautan yang dikirim via WhatsApp, SMS, atau email.
  • Permintaan transfer bank ke rekening yang berbeda dari ketentuan di konfirmasi pemesanan.
  • Tenggat waktu yang sangat singkat, misalnya “dalam 24 jam” atau reservasi hangus.
  • Pesan yang terlihat meyakinkan karena memuat detail perjalanan Anda yang benar.

Cara melindungi diri

Jangan menganggap sebuah pesan asli hanya karena isinya memuat data pemesanan Anda yang tepat. Selalu cek status reservasi langsung melalui aplikasi atau situs resmi platform pemesanan, bukan lewat tautan di pesan. Bila ragu, hubungi hotel melalui nomor yang tertera di situs resminya. Jangan pernah memberikan nomor kartu, kode CVV, atau OTP melalui chat. Jika sudah telanjur memasukkan data kartu, segera blokir kartu melalui bank penerbit.

Ke mana melapor di Indonesia

Jika Anda menemukan modus serupa atau sudah telanjur menjadi korban, jangan diam. Beberapa kanal resmi yang bisa digunakan di Indonesia:

  • Kontak OJK 157 – telepon 157, WhatsApp 081-157-157-157, email konsumen@ojk.go.id, atau portal kontak157.ojk.go.id untuk pengaduan yang menyangkut sektor jasa keuangan.
  • Satgas PASTI (Waspada Investasi) – untuk melaporkan atau mengecek penawaran investasi dan pinjaman ilegal, lihat ojk.go.id/waspada-investasi.
  • cekrekening.id – untuk mengecek dan melaporkan nomor rekening yang diduga dipakai untuk penipuan.
  • aduankonten.id – untuk melaporkan konten, akun, situs, atau aplikasi bermuatan penipuan kepada Kementerian Komunikasi dan Digital.
  • patrolisiber.id – untuk melaporkan tindak kejahatan siber ke Direktorat Tindak Pidana Siber Polri. Untuk kasus dengan kerugian nyata, buat juga laporan resmi di kantor polisi terdekat.

Simpan semua bukti – tangkapan layar percakapan, bukti transfer, nomor rekening, nomor telepon, dan tautan – sebelum pelaku menghapus akun mereka. Segera hubungi bank Anda bila ada transfer yang baru saja terjadi.

Sumber: BBC News. Artikel ini ditulis ulang dan dirangkum oleh redaksi penipuan.id untuk edukasi pembaca di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *