Apa yang terjadi
Kepolisian Singapura menangkap tiga remaja – dua warga Singapura berusia 19 dan 16 tahun serta seorang warga Malaysia berusia 19 tahun – atas dugaan keterlibatan dalam penipuan senilai US$2,89 juta (sekitar S$3,7 juta). Laporan The Star, mengutip The Straits Times, menyebut ketiganya diduga bekerja sama dengan sindikat di Malaysia untuk mendirikan perusahaan cangkang pada Maret dan April 2026, lalu membuka rekening korporat di bank DBS untuk menampung hasil kejahatan.
Sebuah perusahaan pengiriman dana (remitter) di Amerika Serikat tertipu lewat modus business e-mail compromise (BEC) sehingga mentransfer US$2,89 juta ke salah satu rekening itu. Ketika pemegang rekening mencoba menarik US$2,56 juta, staf DBS curiga dan melapor ke polisi pada 22 April. Sisa dana sudah telanjur dikirim ke rekening lain di luar negeri. Komando Antipenipuan Singapura menghubungi Interpol, yang kemudian memberi tahu perusahaan AS tersebut bahwa mereka menjadi korban.
Dua remaja berusia 19 tahun dijadwalkan didakwa pada 25 April dengan tuduhan membantu pihak lain menyimpan hasil kejahatan, dengan ancaman hingga 10 tahun penjara, denda, atau keduanya. Penyidikan terhadap remaja 16 tahun masih berjalan.
Modus yang digunakan
BEC umumnya dilakukan dengan menyamar sebagai pimpinan perusahaan, karyawan, atau pemasok yang sudah dikenal melalui email. Pelaku mengirim instruksi pembayaran atau “perubahan rekening tujuan” yang tampak wajar, sehingga bagian keuangan mentransfer dana ke rekening milik penipu.
Kasus ini juga memperlihatkan peran “keledai uang” (money mule): orang muda direkrut untuk membuat perusahaan dan membuka rekening atas nama mereka sendiri. Merekalah yang pertama kali berurusan dengan hukum ketika dana kejahatan terlacak.
Tanda-tanda bahaya
- Email yang meminta perubahan nomor rekening tujuan pembayaran secara mendadak.
- Alamat email pengirim sedikit berbeda dari biasanya, misalnya satu huruf tertukar.
- Permintaan transfer yang mendesak dan meminta dirahasiakan.
- Tawaran uang mudah untuk membuka rekening, mendirikan perusahaan, atau “meminjamkan” rekening bank.
Cara melindungi diri
Bagi pelaku usaha, selalu verifikasi setiap perubahan rekening pembayaran melalui saluran lain – misalnya menelepon nomor pemasok yang sudah tercatat, bukan nomor yang tercantum di email. Terapkan persetujuan berlapis untuk transfer bernilai besar dan aktifkan autentikasi dua faktor pada akun email perusahaan.
Bagi perorangan, terutama anak muda: jangan pernah menjual, menyewakan, atau meminjamkan rekening bank, identitas, maupun nama Anda untuk mendirikan perusahaan atas permintaan orang lain. Imbalan yang ditawarkan tidak sebanding dengan risiko hukum yang harus ditanggung sendiri.
Ke mana melapor di Indonesia
Jika Anda menemukan modus serupa atau sudah telanjur menjadi korban, jangan diam. Beberapa kanal resmi yang bisa digunakan di Indonesia:
- Kontak OJK 157 – telepon 157, WhatsApp 081-157-157-157, email konsumen@ojk.go.id, atau portal kontak157.ojk.go.id untuk pengaduan yang menyangkut sektor jasa keuangan.
- Satgas PASTI (Waspada Investasi) – untuk melaporkan atau mengecek penawaran investasi dan pinjaman ilegal, lihat ojk.go.id/waspada-investasi.
- cekrekening.id – untuk mengecek dan melaporkan nomor rekening yang diduga dipakai untuk penipuan.
- aduankonten.id – untuk melaporkan konten, akun, situs, atau aplikasi bermuatan penipuan kepada Kementerian Komunikasi dan Digital.
- patrolisiber.id – untuk melaporkan tindak kejahatan siber ke Direktorat Tindak Pidana Siber Polri. Untuk kasus dengan kerugian nyata, buat juga laporan resmi di kantor polisi terdekat.
Simpan semua bukti – tangkapan layar percakapan, bukti transfer, nomor rekening, nomor telepon, dan tautan – sebelum pelaku menghapus akun mereka. Segera hubungi bank Anda bila ada transfer yang baru saja terjadi.
Sumber: The Star. Artikel ini ditulis ulang dan dirangkum oleh redaksi penipuan.id untuk edukasi pembaca di Indonesia.