Mencari kos atau kamar sewa lewat media sosial memang praktis, tetapi juga membuka celah bagi penipu. Investigasi BBC di London ini menggambarkan bagaimana calon penyewa, termasuk mahasiswa dari luar negeri, kehilangan uang deposit dan tempat tinggal hanya beberapa hari sebelum pindahan. Polanya sangat mungkin terjadi juga di kota-kota besar Indonesia.
Apa yang terjadi
BBC News menginvestigasi sejumlah penyewa di London yang kehilangan uang deposit kamar. Mereka berhubungan dengan seorang pria yang menawarkan kamar di flat tiga kamar tidur. Menjelang hari pindahan, pria itu membatalkan dengan alasan ayahnya meninggal dunia, sehingga para calon penyewa terpaksa mencari tempat tinggal darurat.
BBC berbicara dengan beberapa korban, termasuk mahasiswa internasional, yang secara total mengaku kehilangan lebih dari £6.000. Dalam salah satu email kepada korban, pria tersebut mengakui kamar itu tidak pernah benar-benar disewakan. Kepolisian London menyatakan telah menerima beberapa laporan dugaan penipuan sewa pada Juli hingga Oktober 2025; pria itu sempat ditangkap lalu dilepas sambil penyelidikan berlanjut. Menurut layanan pelaporan Report Fraud, ada 4.441 laporan penipuan sewa di Inggris, Wales, dan Irlandia Utara dalam setahun terakhir, dengan korban terbanyak berusia 20 sampai 29 tahun.
Modus yang digunakan
Iklan dipasang atau ditawarkan melalui grup Facebook pencari hunian, dengan harga jauh di bawah rata-rata. Korban didesak memutuskan cepat karena “banyak peminat”. Untuk meyakinkan, pelaku mengirim foto, video call, tagihan rumah, hingga salinan identitas. Salah satu korban kemudian mengetahui bahwa bukti penyimpanan deposit yang ia terima ternyata palsu.
Setelah uang diterima, pelaku menunda pengembalian dengan berbagai alasan, lalu membatalkan sewa di menit terakhir.
Tanda-tanda bahaya
- Harga sewa jauh lebih murah dibanding hunian sejenis di lokasi yang sama.
- Desakan untuk segera transfer sebelum melihat langsung properti.
- Kesepakatan dan pembayaran selesai hanya dalam hitungan jam.
- Permintaan uang sewa beberapa bulan di muka dalam jumlah besar.
- Pemilik terus menunda pertemuan atau pengembalian dana dengan berbagai alasan.
Cara melindungi diri
- Lihat properti secara langsung, atau minta kerabat tepercaya memeriksanya.
- Cek kepemilikan dan identitas pemilik; jangan hanya percaya pada dokumen yang dikirim lewat chat.
- Cek nomor rekening tujuan di cekrekening.id sebelum mentransfer.
- Gunakan kontrak tertulis dan hindari membayar penuh sebelum serah terima kunci.
- Waspadai tawaran di media sosial yang terlalu murah untuk menjadi kenyataan.
Ke mana melapor di Indonesia
Jika Anda menjadi korban atau menemukan modus serupa, segera hubungi bank Anda untuk meminta pemblokiran transaksi, lalu laporkan melalui kanal resmi berikut. Siapkan bukti berupa tangkapan layar percakapan, bukti transfer, nomor rekening atau nomor telepon pelaku, serta tautan akun atau situs yang digunakan.
- Kontak OJK 157 untuk pengaduan terkait lembaga jasa keuangan, investasi, dan pinjaman online.
- Satgas PASTI (Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal) untuk melaporkan investasi atau pinjol ilegal, melalui kanal pengaduan OJK.
- aduankonten.id untuk melaporkan situs, akun, atau konten penipuan ke Komdigi.
- cekrekening.id untuk mengecek dan melaporkan nomor rekening yang dipakai penipu.
- patrolisiber.id untuk melaporkan kejahatan siber ke Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri.
Penipu terus mengembangkan cara baru, tetapi polanya hampir selalu sama: membangun kepercayaan atau rasa takut, menciptakan rasa terdesak, lalu meminta uang atau data. Luangkan waktu sejenak untuk memeriksa, bertanya kepada orang tepercaya, dan menolak tekanan. Bagikan artikel ini kepada keluarga dan teman, terutama orang tua, agar lebih banyak orang terlindungi.
Sumber: BBC News. Artikel ini ditulis ulang dan dirangkum oleh redaksi penipuan.id untuk edukasi masyarakat.