Kecerdasan buatan membuat penipuan semakin sulit dikenali. Suara dan wajah seseorang kini bisa ditiru dengan meyakinkan, dan sindikat penipuan sudah mulai memanfaatkannya. Peringatan dari para pakar di Malaysia ini relevan bagi Indonesia, di mana penggunaan media sosial dan pesan instan juga sangat tinggi.
Apa yang terjadi
Kantor berita Bernama melaporkan seruan Prof. Dr. Mohd Saberi Mohamad, CEO Institute for Data Innovation and Artificial Intelligence (IDEA-AI), agar Malaysia segera memperkuat kebijakan dan kerangka regulasi kecerdasan buatan. Alasannya, teknologi AI kini mampu meniru suara dan identitas untuk menipu korban.
Ia menyebut lebih dari 35.000 kasus penipuan daring dilaporkan di Malaysia pada 2024 dengan kerugian sekitar RM1,58 miliar, dan 12.000 kasus senilai sekitar RM573,7 juta pada tiga bulan pertama 2025. Menurutnya, tidak semua kasus melibatkan deepfake, tetapi sindikat semakin sering memakai AI untuk menyamar. Ia juga mengutip laporan keamanan siber global bahwa penipuan berbasis deepfake melonjak lebih dari sepuluh kali lipat antara 2022 dan 2023. Pakar lain yang dikutip Bernama mengingatkan bahwa jika tokoh publik, instansi pemerintah, atau lembaga keuangan bisa ditiru lewat deepfake, kepercayaan masyarakat akan tergerus.
Modus yang digunakan
Penipu memakai rekaman suara atau video palsu yang meniru anggota keluarga, atasan, pejabat, atau selebritas. Contoh umum: “suara anak” yang menelepon dalam keadaan darurat meminta transfer, atau video tokoh terkenal yang seolah mempromosikan investasi dengan untung pasti.
Teknologi ini membuat penipuan terasa lebih meyakinkan karena korban merasa melihat atau mendengar langsung orang yang dikenalnya.
Tanda-tanda bahaya
- Panggilan atau video dari orang dikenal yang tiba-tiba meminta uang secara mendesak.
- Kualitas suara atau gerak bibir terasa sedikit janggal atau tidak sinkron.
- Penelepon menolak dihubungi balik lewat nomor yang biasa dipakai.
- Iklan investasi yang menampilkan tokoh terkenal dengan janji keuntungan tinggi.
- Permintaan merahasiakan transaksi dari anggota keluarga lain.
Cara melindungi diri
- Sepakati “kata sandi keluarga” untuk memverifikasi situasi darurat.
- Tutup telepon dan hubungi balik orang tersebut melalui nomor yang sudah Anda simpan.
- Jangan percaya promosi investasi hanya karena menampilkan wajah tokoh publik; cek legalitasnya di OJK.
- Batasi unggahan rekaman suara dan video pribadi di media sosial publik.
- Laporkan konten deepfake penipuan ke platform dan ke aduankonten.id.
Ke mana melapor di Indonesia
Jika Anda menjadi korban atau menemukan modus serupa, segera hubungi bank Anda untuk meminta pemblokiran transaksi, lalu laporkan melalui kanal resmi berikut. Siapkan bukti berupa tangkapan layar percakapan, bukti transfer, nomor rekening atau nomor telepon pelaku, serta tautan akun atau situs yang digunakan.
- Kontak OJK 157 untuk pengaduan terkait lembaga jasa keuangan, investasi, dan pinjaman online.
- Satgas PASTI (Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal) untuk melaporkan investasi atau pinjol ilegal, melalui kanal pengaduan OJK.
- aduankonten.id untuk melaporkan situs, akun, atau konten penipuan ke Komdigi.
- cekrekening.id untuk mengecek dan melaporkan nomor rekening yang dipakai penipu.
- patrolisiber.id untuk melaporkan kejahatan siber ke Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri.
Penipu terus mengembangkan cara baru, tetapi polanya hampir selalu sama: membangun kepercayaan atau rasa takut, menciptakan rasa terdesak, lalu meminta uang atau data. Luangkan waktu sejenak untuk memeriksa, bertanya kepada orang tepercaya, dan menolak tekanan. Bagikan artikel ini kepada keluarga dan teman, terutama orang tua, agar lebih banyak orang terlindungi.
Sumber: Bernama. Artikel ini ditulis ulang dan dirangkum oleh redaksi penipuan.id untuk edukasi masyarakat.